Nani si Pemberani
![]() |
| Lanskap kota Wamena, dengan tugu salib sebagai ikonnya |
Nani adalah anak yang sehari-hari bisa kau temui di depan rumah makan dekat tugu ikon kota Wamena. Ia akrab berbaur dengan sesama anak lain, kecil hingga besar, anak jalanan hingga anak pemilik kios. Ia punya rumah dan keluarga, namun hidupnya lebih banyak dihabiskan di jalanan: bermain, bergaul, kadang mencari peruntungan, dan belajar kehidupan. Sejak kami bertemu pertama kali dan makan siang bersama, sudah 6 bulan kami tidak berjumpa. Namun ia masih mengingat namaku, yang relatif susah dilafalkan dan dihafalkan. Sorot matanya menunjukkan gairah hidup dan keingintahuan. Pun meski ia belum makan selama 24 jam, dan belum juga sekolah. Menariknya, ia sangat tertarik membaca. Setiap tulisan yang ia temui diejanya huruf demi huruf, lalu dirangkainya menjadi kata per kata.
"R-o-t-i b-a-k-a-r , roti bakar," bacanya dengan sabar. Ya, di pertemuan kedua kami makan roti bakar, meski awalnya ia malu-malu. Ia mengaku baru akan masuk sekolah menunggu tantenya, seorang guru di kabupaten sebelah, datang berkunjung. Kapan? Belum tahu, katanya. Meski belum sekolah, ia telah memperoleh pelajaran berharga yang belum tentu didapat di sekolah. Barangkali bisa dikatakan, ia telah lulus ujian yang belum tentu ia dapat di sekolah.
Nani menyaksikan dengan matanya sendiri, teman-teman yang terkena pengaruh narkoba. Seorang teman kakaknya pernah menawarinya dan teman perempuannya untuk menghisap ganja. Temannya mencoba, ia menolak. Teman-temannya mulai mencicip lem aibon, ia bergeming. "Cium baunya saja bikin sa muntah," ujarnya. Namun jangan salah, banyak anak terpikat hingga terjerat oleh benda tersebut. Di sudut taman kota, pada hari dan jam sekolah, tak jarang ada pemandangan anak berseragam sekolah terduduk lemas, membenamkan tangan dan hidungnya ke dalam bajunya. Nani pernah menyaksikan seorang pemuda yang menghisap aibon sambil tidur-tiduran di trotoar. Lem tersebut mengalir ke dalam mulutnya, kontan merenggut nyawanya. "Orang kira de tidur, padahal su meninggal," ceritanya.
Obrolan kami terjeda karena sejenis kecoak terbang hinggap di rambutku. Suami bantu mengusir, dan Nani bantu menangkapnya. Layaknya seorang anak, dengan mata berbinar ia lantas bercerita bahwa serangga itu adalah salah satu mainan favoritnya. Ia biasa bawa ke kamarnya untuk dibuat main tangkap-tangkapan, juga masak-masakan (tidak dimakan). Tak lupa ia memberi kami peringatan, "hati-hati kalau de gigit bisa sakit" seraya menunjukkan bekas luka di tangannya.
Saat kami hendak pulang, ia mencoba belajar memanggang roti. Sang juru masak membimbingnya dengan telaten. Ketika kami pamit, ia berucap "hati-hati kaka!" hingga 3 kali. Tulus dari hati. Terima kasih Nani. Ingin rasanya mengucap 'hati-hati' kembali padamu, tapi kami percaya ko seorang pemberani: Berani melangkah, merawat juga memaknai hidup seturut hati nurani.
![]() |
| Belajar memanggang roti |



Komentar
Posting Komentar